Kamis, 23 Januari 2025

Pantai Sanur

 


Pantai Sanur

Lokasi di Denpasar
Koordinat: 8°41′S 115°16′E
Negara Indonesia
Provinsi Bali
Kota Denpasar

Pantai Sanur adalah salah satu pantai wisata yang ada di pulau Bali. Pantai ini terletak persis di sebelah timur kota Denpasar, Bali. Sanur berada di Kotamadya Denpasar.
Karena memiliki ombak yang cukup tenang, maka pantai Sanur tidak bisa dipakai untuk selancar layaknya Pantai Kuta. Tak jauh dari Pantai Sanur terdapat juga lokasi wisata selam dan snorkeling. Lokasi selam ini dapat digunakan oleh para penyelam dari semua tingkatan keahlian.
Pantai Sanur juga dikenal sebagai sunrise beach (pantai untuk melihat matahari terbit), berlawanan dengan Pantai Kuta yang lebih dikenal dengan pemandangan matahari tenggelam.

Fasilitas
Saat ini, sepanjang kawasan wisata Pantai Sanur sudah dilengkapi dengan penunjang wisata berupa hotel, restoran, kafe, dan art shop. Selain itu, sepanjang garis pantai juga dibangun semacam area pejalan kaki yang sering kali digunakan sebagai jalur jogging oleh wisatawan ataupun masyarakat lokal. Jalur ini terbentang ke arah selatan melewati Pantai Sindu, Pantai Karang hingga Semawang sehingga wisatawan bisa berolahraga sekaligus melihat pemandangan pantai.
Melihat dari sejarah Sanur yang kerap kali dikunjungi oleh para wisatawan Eropa, beberapa restoran dan butik di daerah itu juga mengangkat gaya atau nuansa Eropa. Salah satunya adalah Massimo, sebuah restoran dan gelateria Italia yang sudah lama di Sanur. Juga mengambil tema Italia.

Aksesibilitas
kawasan wisata Pantai Sanur dapat diakses melalui jalur udara dan jalur darat. Setelah sampai di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Tuban, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan dengan transportasi darat. Jarak antara Tuban dengan kawasan wisata Pantai Sanur berjarak sekitar 10 hingga 15 kilometer dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar setengah jam. Kawasan ini juga dilintasi fasilitas tol Bali Mandara. Selain itu kawasan ini dilengkapi dengan transportasi umum berupa taksi.



Sabtu, 11 Januari 2025

Candi Mendut

 

Candi Mendut

Candi Mendut  adalah sebuah candi bercorak Buddha.
 Candi yang terletak di Desa Mendut, Jalan Mayor Kusen Kota Mungkid,
 Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ini, letaknya berada
 sekitar 3 kilometer dari Candi Borobudur.

7°36′17.17″S 110°13′48.01″E

Masa pembuatan

Candi Mendut didirikan semasa pemerintahan Raja Indra dari dinasti Syailendra. Di dalam prasasti Karangtengah yang bertarikh 824 Masehi, disebutkan bahwa raja Indra telah membangun bangunan suci bernama wenuwana yang artinya adalah hutan bambu. Oleh seorang ahli arkeologi Belanda bernama J.G. de Casparis, kata ini dihubungkan dengan Candi Mendut.


Arsitektur candi

Bahan bangunan candi sebenarnya adalah batu bata yang ditutupi dengan batu alam. Bangunan ini terletak pada sebuah basement yang tinggi, sehingga tampak lebih anggun dan kokoh. Tangga naik dan pintu masuk menghadap ke barat-daya. Di atas basement terdapat lorong yang mengelilingi tubuh candi. Atapnya bertingkat tiga dan dihiasi dengan stupa-stupa kecil. Jumlah stupa-stupa kecil yang terpasang sekarang adalah 48 buah.
Tinggi bangunan adalah 26,4 meter.

Hiasan di candi Mendut

Tiga arca di dalam candi Mendut, arca Dhyani Buddha Wairocana diapit Boddhisatwa Awalokiteswara dan Wajrapani.

Hiasan yang terdapat pada Candi Mendut berupa hiasan yang berselang-seling. Dihiasi dengan ukiran makhluk-makhluk kahyangan berupa dewata gandarwa dan apsara atau bidadari, dua ekor kera dan seekor garuda.

Pada kedua tepi tangga terdapat relief-relief cerita Pancatantra dan jataka.

Dinding candi dihiasi relief Boddhisatwa di antaranya Awalokiteśwara, Maitreya, Wajrapāṇi dan Manjuśri. Pada dinding tubuh candi terdapat relief kalpataru, dua bidadari, Harītī (seorang yaksi yang bertobat dan lalu mengikuti Buddha) dan Āţawaka.

Di dalam induk candi terdapat arca Buddha besar berjumlah tiga: yaitu Dhyani Buddha Wairocana dengan sikap tangan (mudra) dharmacakramudra. Di depan arca Buddha terdapat relief berbentuk roda dan diapit sepasang rusa, lambang Buddha. Di sebelah kiri terdapat arca Awalokiteśwara (Padmapāņi) dan sebelah kanan arca Wajrapāņi.

Relief-relief

Relief 1. Brahmana dan seekor kepiting.

Pada relief ini terdapat lukisan cerita hewan atau fabel yang dikenal dari Pancatantra atau jataka. Cerita lengkapnya disajikan di bawah ini:

Maka adalah seorang brahmana yang datang dari dunia bawah dan bernama Dwijeswara. Ia sangat sayang terhadap segala macam hewan.

Maka berjalanlah dia untuk bersembahyang di gunung dan berjumpa dengan seekor kepiting di puncak gunung yang bernama Astapada, dibawa di pakaiannya. Maka kata sang brahmana: “Kubawanya ke sungai, sebab aku merasa kasihan.” Maka iapun berjalan dan berjumpa dengan sebuah balai peristirahatan di tepi sungai. Lalu dilepaslah si kepiting oleh sang brahmana. Si Astapada merasa lega hatinya. Sedangkan sang brahmana beristirahat di balai-balai ini. Ia tidur dengan nikmat, hatinya nyaman.

Adalah seekor ular yang berteman dengan seekor gagak dan merupakan ancaman bagi sang brahmana. Maka kata si ular kepada kawannya si gagak: “Jika ada orang datang ke mari untuk tidur, ceritakan padaku, aku mangsanya.”

Si gagak melihat sang brahmana tidur di balai-balai. Segeralah keluar si ular katanya: “Aku ingin memangsa matanya kawan.” Begitulah perjanjian mereka.

Si kepiting yang dibawa oleh sang brahmana mendengar. Lalu kata si kepiting di dalam hati: “Aduh, sungguh buruk kejahatan si gagak dan ular. Sama-sama buruk kelakuannya.” Terpikir olehnya bahwa si kepiting berhutang budi kepada sang brahmana. Ia ingin melunasi hutangnya, maka pikirnya. “Ada siasatku, aku akan berkawan dengan keduanya.” Maka ujar si kepiting, “Wahai kedua kawanku, akan kupanjangkan leher kalian, supaya lebih nikmat kalau kalian ingin memangsa sang brahmana.” – “Aku setuju dengan usulmu, <laksanakanlah> dengan segera.” Begitulah kata si gagak dan si ular keduanya. Kedua-keduanya ikut menyerahkan leher mereka dan disupit di sisi sana dan sini oleh si kepiting dan keduanya langsung putus seketika. Matilah si gagak dan si ular. 

Relief 2. Angsa dan kura-kura

Pada relief ini terdapat lukisan cerita hewan atau fabel yang dikenal dari Pancatantra atau jataka. Cerita lengkapnya disajikan di bawah ini. Namun cerita yang disajikan di bawah ini agak berbeda versinya dengan lukisan di relief ini:

Ada kura-kura bertempat tinggal di danau Kumudawati. Danau itu sangat permai, banyak tunjungnya beranekawarna, ada putih, merah dan (tunjung) biru.

Ada angsa jantan betina, berkeliaran mencari makan di danau Kumudawati yang asal airnya dari telaga Manasasara.Adapun nama angsa itu, si Cakrangga (nama) angsa jantan, si Cakranggi (nama) angsa betina. Mereka itu bersama-sama tinggal di telaga Kumudawati.

Maka sudah lamalah bersahabat dengan kura-kura. Si Durbudi (nama) si jantan, sedangkan si Kacapa (nama) si betina.

Maka sudah hampir tibalah musim kemarau. Air di danau Kumudawati semakin mengeringlah. [Kedua] angsa, si Cakrangga dan si Cakranggi lalu berpamitan kepada kawan mereka si kura-kura; si Durbudi dan si Kacapa. Katanya:

“Wahai kawan kami meminta diri pergi dari sini. Kami ingin pergi dari sini, sebab semakin mengeringlah air di danau. Apalagi menjelang musim kemarau.Tidak kuasalah kami jauh dari air. Itulah alasannya kami ingin terbang dari sini, mengungsi ke sebuah danau di pegunungan Himawan yang bernama Manasasana. Amat murni airnya bening dan dalam. Tidak mengering walau musim kemarau sekalipun. Di sanalah tujuan kami kawan.” Begitulah kata si angsa.Maka si kura-kurapun menjawab, katanya:

“Aduhai sahabat, sangat besar cinta kami kepada anda, sekarang anda akan meninggalkan kami, berusaha untuk hidupmu sendiri.

Bukankah (keadaannya) sama kami dengan anda, tidak bisa jauh dari air? Ke mana pun anda pergi kami akan ikut, dalam suka dan duka anda. Inilah hasil persahabatan kami dengan kalian.

Angsa menjawab: “Baiklah kura-kura. Kami ada akal. Ini ada kayu, pagutlah olehmu tengah-tengahnya, kami akan memagut ujungnya sana dan sini dengan isteriku. Kuatlah kami nanti membawa terbang kamu, [hanya] janganlah kendor anda memagut, dan lagi jangan berbicara. Segala yang kita atasi selama kami menerbangkan anda nanti, janganlah hendaknya anda tegur juga. Jika ada yang bertanya jangan pula dijawab. Itulah yang harus anda lakukan, jangan tidak mentaati kata-kata kami. Apabila anda tidak mematuhi petunjuk kami tak akan berhasil anda sampai ke tempat tujuan, akan berakhir mati.”Maka demikianlah kata angsa.

Lalu dipagutlah tengah-tengah kayu itu oleh si kura-kura, ujung dan pangkalnya dipatuk oleh angsa, di sana dan di sini, laki bini, kanan kiri.Segera terbang dibawa oleh angsa, akan mengembara ke telaga Manasasara, tempat tujuan yang diharapkannya. Telah jauh terbang mereka, sampailah di atas ladang Wilanggala.Maka adalah anjing jantan dan betina yang bernaung di bawah pohon mangga. Si Nohan nama si anjing jantan, si Babyan nama si betina. Maka mendongaklah si anjing betina, melihat si angsa terbang, keduanya sama menerbangkan kura-kura. Lalu katanya.“Wahai bapak anakku, lihatlah itu ada hal yang amat mustahil. Kura-kura yang diterbangkan oleh angsa sepasang!”Lalu si anjing jantan menjawab: “Sungguh mustahil kata-katamu. Sejak kapan ada kura-kura yang dibawa terbang oleh angsa? Bukan kura-kura itu tetapi tahi kerbau kering, sarang karu-karu! Oleh-oleh untuk anak angsa, begitulah adanya!” Begitulah kata si anjing jantan.

Terdengarlah kata-kata anjing itu oleh kura-kura, marahlah batinnya. Bergetarlah mulutnya karena dianggap tahi kerbau kering, sarang karu-karu.

Maka mengangalah mulut si kura-kura, lepas kayu yang dipagutnyam jatuhlah ke tanah dan lalu dimakan oleh serigala jantan dan betina.Si angsa malu tidak dipatuhi nasihatnya. Lalu mereka melanjutkan perjalanan melayang ke danau Manasasara.

Relief 3. Dharmabuddhi dan Dustabuddhi

Cerita ini mengenai dua orang sahabat anak para saudagar. Suatu hari Dharmabuddhi menemukan uang dan bercerita kepada kawannya Dustabuddhi. Lalu mereka berdua menyembunyikan uang ini di bawah sebuah pohon. Setiap kali mereka membutuhkan uang, Dharmabuddhi mengambil sebagian dan membagi secara adil. Tapi Dustabuddhi tidak puas dan suatu hari mengambil semua uang yang tersisa. Ia lalu menuduh Dharmabuddhi dan menyeretnya ke pengadilan. Tetapi akhirnya Dustabuddhi ketahuan dan dihukum.

Relief 4. Dua burung betet yang berbeda.

Relief ini melukiskan cerita dua burung betet bersaudara namun berbeda kelakuannya karena yang satu dididik oleh seorang penyamun. Sedangkan yang satu oleh seorang pendeta.


Candi Ratu Boko

Candi Ratu Boko

Lokasi Candi Ratu Boko
Jl. Raya Piyungan - Prambanan No.2, Gatak, Bokoharjo, Kec. Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 5572
7.7705416,110.4894158,758m
Harga Tiket Masuk
Pengelola Candi Ratu Boko memberlakukan tarif yang berbeda untuk wisatawan lokal dan mancanegara. Mari simak detailnya berikut ini.
1. Harga Tiket Masuk untuk Wisatawan Domestik
Harga Tiket Masuk Reguler
Usia 10 tahun ke atas: Rp40.000
Usia 3 s/d 10 tahun: Rp20.000
Termasuk premi asuransi: Rp500 per orang
Tarif Khusus untuk Rombongan Pelajar/Mahasiswa (Minimal 20 orang)
Tarif: Rp20.000 per orang
Termasuk premi asuransi: Rp500 per orang
Paket Terusan
1. Ratu Boko-Prambanan:
Usia 10 tahun ke atas: Rp85.000
Usia 3 s/d 10 tahun: Rp40.000
2. Ratu Boko-Borobudur
Usia 10 tahun ke atas: Rp75.000
Usia 3 s/d 10 tahun: Rp35.000
2. Harga Tiket Masuk untuk Wisatawan Mancanegara
Tiket Masuk Reguler
Usia di atas 10 tahun: USD 25
Usia 3 s/d 10 tahun: USD 15
Termasuk premi asuransi: Rp1.000
Paket Terusan
1. Ratu Boko-Prambanan
Usia di atas 10 tahun: USD 45
Usia 3 s/d 10 tahun: USD 27
2. Ratu Boko-Borobudur
Usia di atas 10 tahun: USD 45
Usia 3 s/d 10 tahun: USD 27

Sejarah Candi Ratu Boko

Candi Ratu Boko terletak sekitar 3 km di selatan Prambanan, lebih tepatnya di atas bukit yang tingginya sekitar 195,97 m di atas permukaan laut. Meskipun sering disebut sebagai candi, Ratu Boko sebenarnya adalah sisa-sisa sebuah istana yang dikenal sebagai Kraton Ratu Boko.

Menurut legenda, tempat ini dulunya adalah istana milik Ratu Boko, ayah dari Lara Jonggrang. Istana ini dibangun pada abad ke-8 M oleh Dinasti Syailendra yang beragama Buddha, namun kemudian dikuasai oleh raja-raja Hindu Mataram.

Ratu Boko memiliki sejarah yang kaya, dengan ditemukan sebuah prasasti yang bernama Prasasti Abhayagiriwihara yang berasal dari tahun 792 M. Prasasti ini menunjukkan bahwa Ratu Boko dibangun oleh Rakai Panangkaran. Pada prasasti tersebut, tertulis dengan huruf Pranagari, yang umum digunakan dalam prasasti Buddha.

Nama Raja Tejapurnama Panangkarana juga disebutkan, yang merupakan nama lain dari Rakai Panangkaran. Ia memerintahkan pembangunan Abhayagiriwihara, yang berarti sebuah biara yang dibangun di atas bukit kedamaian.

Selama masa pemerintahan Rakai Walaing Pu Kombayoni antara 898 hingga 908 M, Abhayagiriwihara berganti nama menjadi Kraton Walaing. Peralihan ini mencerminkan perubahan pengaruh dari Buddha ke Hindu yang terjadi di kawasan tersebut. Ratu Boko pun menjadi simbol percampuran budaya yang kaya, dengan referensi dari kedua agama tersebut yang terlihat di struktur dan arsitekturnya.

Ratu Boko hingga kini menarik perhatian banyak pengunjung karena sejarah dan keindahannya. Meskipun bukan candi dalam arti sebenarnya, kompleks ini tetap menyimpan nilai sejarah yang penting bagi kebudayaan Indonesia, mencerminkan warisan dua agama besar yang pernah mempengaruhi tanah Jawa.

Fungsi Candi Ratu Boko

Dikutip dari buku Candi dan Lingkungan Abad IX-X Masehi di Wilayah Jawa Bagian Tengah oleh Niken Wirasanti, Situs Ratu Boko sering diinterpretasikan sebagai keraton. Temuan artefak di lokasi ini menunjukkan bahwa Ratu Boko pernah menjadi tempat hunian.

Struktur bangunan kayu, gapura, dan fragmen gerabah menunjukkan aktivitas sehari-hari di situs ini. Prasasti yang ditemukan juga mengindikasikan bahwa Ratu Boko pernah digunakan oleh penganut Buddha sebelum beralih ke Hindu.

Situs ini awalnya merupakan wihara bernama Abhayagiri yang didirikan pada tahun 792 M. Kemudian, pada tahun 856 M, kompleks ini berfungsi sebagai hunian seorang penguasa bernama Rakai Walaing Pu Kumbayoni, yang beragama Hindu. Nama Walaing terus disebut dalam prasasti hingga tahun 907 M. Meskipun Ratu Boko menjadi tempat hunian, situs ini tidak dikenal sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno.

Daya Tarik Candi Ratu Boko

Berdasarkan informasi yang terdapat pada buku Mengenal Lebih Dekat: Candi Nusantara tulisan Garsinia Lestari, Candi Ratu Boko memiliki sejumlah daya tarik yang memikat wisatawan. Apa sajakah daya tariknya? Mari simak penjelasan lengkap berikut ini!

1. Situs Purbakala Terbesar

Situs Ratu Boko adalah satu-satunya pemukiman klasik terbesar yang ditemukan di Jawa. Keberadaannya memberikan wawasan mendalam tentang sejarah dan budaya masa lalu. Artefak yang ditemukan di sini menunjukkan bahwa kompleks ini pernah menjadi pusat kehidupan masyarakat pada masa klasik.

Penemuan struktur bangunan, gapura, dan artefak sehari-hari menambah daya tarik tempat ini bagi para peneliti dan pengunjung. Mengunjungi situs ini memberikan pengalaman unik untuk memahami bagaimana masyarakat masa lalu hidup dan berinteraksi dengan lingkungan mereka.

2. Panorama Alam yang Indah

Kompleks candi ini terletak di lereng bukit, memberikan pengunjung pemandangan alam yang mempesona. Dari sini, kita bisa melihat panorama yang luas, terutama saat matahari terbit dan terbenam. Keindahan alam ini membuatnya menjadi lokasi yang ideal untuk berfoto dan menikmati suasana.

Nuansa alami yang diciptakan oleh lokasi strategis situs ini juga menambah kenyamanan bagi para pengunjung. Dengan suasana tenang dan udara segar, Ratu Boko menjadi tempat yang cocok untuk relaksasi dan refleksi.

3. Fasilitas yang Memadai

Situs Ratu Boko dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang mendukung kenyamanan pengunjung. Terdapat area parkir yang luas dan jalur akses yang mudah untuk mencapai berbagai bagian situs. Fasilitas ini menjadikan pengalaman berkunjung lebih menyenangkan.

Selain itu, panggung terbuka yang ada di kompleks ini sering digunakan untuk pertunjukan seni dan budaya. Ini memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk menikmati pertunjukan sambil menikmati keindahan sekitar, sehingga menambah nilai pengalaman kunjungan.

Mitos Candi Ratu Boko

Dilansir detikTravel, Candi Ratu Boko memiliki beberapa mitos yang dikenal oleh masyarakat dan pengunjung. Salah satu yang paling terkenal adalah tentang sumber air yang ada di sana. Banyak orang percaya bahwa jika seseorang mandi atau membasuh muka dengan air tersebut, mereka akan menjadi awet muda. Mitos ini menarik banyak pengunjung yang ingin merasakan manfaatnya.

Selain itu, ada mitos yang menakut-nakuti pasangan yang datang ke Candi Ratu Boko. Dikatakan bahwa jika ada pasangan berkunjung ke Candi Ratu Boko, hubungan mereka akan putus di tengah jalan. Meskipun ada yang mempercayai mitos ini, banyak pengunjung yang tidak terpengaruh dan tetap menikmati kunjungan mereka.



Pantai Sanur

  Pantai Sanur Lokasi di Denpasar Koordinat: 8°41′S 115°16′E Negara Indonesia Provinsi Bali Kota Denpasar Pantai Sanur adalah salah s...